by

PAK JOKOWI, MARI BERKACA PADA SEJARAH

Oleh: Taufiq Amrullah, ME
(Dir Progress Indonesia, Alumni Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE UI)

100 tahun yang lalu, diujung Perang Dunia I terjadilah wabah pandemik Flu Spanyol (Spanish Flu) pada rentang 1918 – 1920an yang ditemukan pertama kali di AS. Lalu mewabah ke penjuru dunia menginfeksi sekitar 1 milyar orang dan menewaskan sekitar 50 juta orang di seluruh dunia, pandemik flu Spanyol ini pun merebak sampai ke Hindia Belanda (Indonesia saat ini).

Gejala Flu Spanyol penderita merasakan pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal. Dalam beberapa hari, otot terasa sakit dan disusul demam tinggi. Gejala umum lainnya, mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga ke paru-paru. Dalam banyak kasus, gejala itu berkembang menjadi pneumonia. Bila penderita sudah sampai pada tahapan ini, kecil kemungkinan bisa bertahan hidup. Sekitar 2 – 20 persen penderita yang terpapar virus ini meninggal dunia. Pasca spanish flu ini melahirkan perubahan layanan kesehatan masyarakat menjadi lebih baik.

Tak lama setelah peristiwa pandemik flu Spanyol ini muncullah resesi ekonomi berkepanjangan sehingga memicu depresi ekonomi (The Great Depression) pada 1930an yang dimulai dari rontoknya pasar saham di AS. The Great Depression tercatat sebagai peristiwa terbesar jatuhnya perekonomian dunia. Peristiwa kelam ini berlangsung selama 1 dekade (1929 – 1939) dan menyerang seluruh sektor perekonomian yang ditandai dengan turun drastisnya total produksi sebesar 25 hingga 50 persen. Tingkat pengangguran meningkat sebesar 25 persen di AS dan 30an persen di negara-negara lainnya. Industri tidak berproduksi, distribusi tidak berjalan, uang tidak beredar, orang-orang kehilangan pekerjaan dan keluarganya kelaparan, jutaan jatuh miskin dan tinggal di penampungan. Great Depression berakhir seiring mulainya Perang Dunia ke-2 pada 1939 hingga 1944. Jadi peranglah yang mengakhiri depresi ekonomi, orang-orang mendapatkan pekerjaan dalam ‘industri perang’.

Mari kita sedikit mereview defenisi. Depresi ekonomi diawali dengan resesi, dan resesi dipicu oleh krisis ekonomi berkepanjangan. Krisis ekonomi sendiri ditandai dengan menurunnya aktivitas dan produktivitas ekonomi secara drastis sehingga pendapatan di setiap sektor ekonomi menurun, jika terus berlanjut maka terjadilah resesi, lalu depresi. Gambaran mikronya adalah krisis ekonomi saat Anda dan teman-teman mengalami penurunan penghasilan secara drastis, gaji dipotong 50 persen atau penjualannya jatuh tinggal 30 persen dari bulan lalu, terjadi terus-menerus maka itu pertanda resesi. Resesi dimulai saat teman-teman dan tetangga Anda kehilangan pekerjaan, dan depresi ekonomi saat Anda juga ikut kehilangan sumber penghasilan. Terjadilah masa kelam depresi ekonomi.

Kita berharap agar peristiwa great depression 1930 tidak terjadi pada Indonesia tercinta. Krisis moneter 1998 yang memicu reformasi telah terjadi di negeri ini dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Pemerintahan Jokowi harus berkaca pada peristiwa-peristiwa sejarah. Jangan sampai terjerembab pada lubang yang sama. Dan pada titik inilah tugas aktivisme kita sebagai anak bangsa mengingatkan dan mengkritisi kebijakan dan langkah-langkah pemerintah dalam sistem presidensial ini.

Great depression telah melahirkan mekanisme koreksi pada sistem ekonomi laissez-faire yang terjadi saat itu. Bahwa mekanisme pasar yang bertumpu pada kapitalisme tidak mampu menjamin tujuan ekonomi secara utuh, terutama keseimbangan dan kesejahteraan. John Maynard Keynes yang merupakan korban suramnya great depression melahirkan teori baru ekonomi, mengkritik ekonomi pasar bebas yang sangat liberal dan individualistik. Teori Keynesian mendorong perlunya peran pemerintah untuk mengintervensi agar terjadi keseimbangan pasar, jaminan harga, tenaga kerja, supply and demand. Mekanisme insentif, operasi pasar, intervensi harga, agar mekanisme pasar tidak merugikan rakyat. Campur tangan dan belanja pemerintah dapat meningkatkan perekonomian secara agregat sehingga uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, pengangguran berkurang dan roda ekonomi berjalan baik. Peran Keynes amat berarti mengangkat kelesuan ekonomi AS pada saat itu.

Pasca Perang dunia kedua, Jepang dan China menggenjot produksi dalam negeri dan mengguyur pasar domestiknya dengan produk dalam negeri, mencetak uang sendiri dengan jaminan proyek dalam negeri. Di masa krisis, negara-negara fokus membenahi domestiknya, mengelola sumber daya yang ada dan mengurangi keteegantungan. Setelah situasi normal dan sudah stabil maka produksi bisa over suply dan bisa ekspor, kita sudah punya daya saing dengan negara lain.

pandemi amerika dan eropa 1918-1920
sejarah pandemi (wabah) amerika dan eropa 1918-1920

Dari rangkaian sejarah tersebut kita belajar banyak hal untuk tidak mengulang langkah yang salah. Bahwa pandemik penyakit menular seperti spanish flu dan sekarang ini Covid-19 bisa menjadi bencana kemanusiaan yang menghapus satu generasi jika tidak ditangani dengan sebaik-baiknya. Dan pemerintahlah yang paling bertanggungjawab mengemas kebijakan publik dengan segenap sumberdaya dan perangkat yang dimiliki untuk menghentikan penyebaran wabah ini. Bagaimana efeknya di masa depan, rakyat akan mengenang Presiden Jokowi sebagai pahlawan atau malah mengecamnya. Bukan menteri dan jubirnya yang dikecam jika rakyat terbunuh dan terlantar. Pak Jokowi, now your turn.

Pandemik penyakit menular dapat memicu krisis ekonomi dan resesi berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik. Kekuatan fiskal Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghentikan wabah ini dan menyelamatkan ekonomi dengan mekanisme realokasi anggaran. Pemerintah memiliki keluasan fiskal untuk menghentikan multiplier effect kejatuhan ekonomi di masa dan pasca pandemik Covid-19. Pemerintah memiliki semua yang terbaik di negeri ini, pejabat, ahli ekonomi, perangkat man with uniform, uang, regulasi, infrastruktur, alat pemaksa, dan semuanya, tinggal dikelola dengan baik.

Kita kembali mengingatkan agar Presiden Jokowi mesti menunda pembangunan infrastruktur, pemindahan ibukota, dan memaksimalkan dana desa untuk penanganan pandemik covid 19 dan perlindungan ekonomi rakyat. Itu sudah cukup melegakan.

Bahwa ancaman pandemik covid 19 ini bukan sekedar ancaman pada kesehatan rakyat, tetapi ancaman pada ekonomi, sosial dan keamanan negara. Pemerintah harus jeli melihat perkembangan dan membaca sejarah. Negara kita dalam ancaman. Pembatasan sosial bukan hanya mengancam ekonomi rakyat, tapi juga menimbulkan keresahan sosial dan kecurigaan, gesekan horisontal harus diantisipasi. Situasi keamanan juga harus diperhatikan dimana fokus pemerintah terpecah-pecah dengan masalah kesehatan dan penyelamatan ekonomi.

Pembatasan sosial dan darurat sipil yang diterapkan sesungguhnya sama saja dengan memaksa rakyat berada di rumahnya dikarantina tanpa disediakan kebutuhan pokok. Pemerintah harus merevisi hal tersebut, dan menyediakan kebutuhan rakyat selama masa karantina.

Inilah saat Presiden Jokowi menunjukkan leadership dan menerapkan sistem presidensialisme secara konsekuen. Bahwa kendali penuh berada di tangannya dan mekanisme komando harus ditegakkan. Tidak bisa dengan menampilkan jubir-jubir yang hanya menimbulkan kesimpangsiuran informasi dan kebingungan masyarakat. Ketegasan komando Presiden Jokowi akan mempercepat kerja perangkat di bawahnya dan memberi ketenangan masyarakat.

Bahwa tatanan baru akan lahir secara gradual pasca pandemik dan krisis ekonomi dunia. Tapi apakah harus terjadi perang untuk mengakhiri depresi, seperti perang dunia kedua yang terjadi pasca flu spanish dan great depression 1930an? Semoga tidak terjadi. Tapi sengitnya perang ekonomi tak terelakkan, terutama perang ekonomi AS vs China. Tak berhenti disitu, sekali lagi Indonesia jangan sampai hanya akan kembali menjadi mangsa dan konsumen dari percaturan ekonomi setelah ini. Caranya bagaimana?

Gunakan mekanisme survival, bertahan hidup dalam situasi darurat. Kembali ke rumah masing-masing, jaga kesehatan selamatkan generasi. Produksi makanan sendiri, pakai baju rajutan dalam negeri, cetak uang sendiri jangan utang, guyur UMKM dengan modal tanpa bunga, perkuat perputaran ekonomi dalam negeri, ciptakan pusat-pusat pertumbuhan sendiri. Karena setelah pandemik ini, semua negara sibuk mengurus domestiknya masing-masing, mayoritas produksi terhenti tahun 2020 ini, diperkirakan 2021 baru siuman, jadi tak usah mikir impor, beli produk dalam negeri, saling bantu sesama anak bangsa.

Inilah kesempatan bagi Indonesia menyalakan kembali mesin-mesin industrinya yang sekarat digilas produk impor, menghidupkan roda ekonominya sendiri, memproduksi kebutuhan dalam negeri sendiri, dan menguatkan UMKM yang lama tak mendapat perhatian penuh. Memang berat dan mahal di awal, memutar turbin mesin industri butuh energi maksimal, tapi kemandirian akan tercipta di masa depan. Tidak lagi bergantung impor bahan kebutuhan dari China dan negara lain, dan tidak lagi bergantung utang dari IMF. Itulah sejatinya peran kunci pemerintah yang kita inginkan. (dri)

PERDANANEWS