by

PAN & Tantangan Reformasi Jilid 2

Sultra.PerdanaNews.com – Keluarnya Hanafi Rais dari DPP PAN, Sekaligus mundur sebagai anggota DPR RI adalah sebuah keputusan politis dan tepat.

Hanafi yang dalam partai adalah seorang amien-isme baik biologis dan ideologis memang wajar mengambil keputusan ini, mengingat Amien Rais ayahnya yang juga pendiri PAN “disingkirkan” oleh Ketum PAN ZulHas saat ini.

Hanafi adalah kubu Mulfachri Harahap saat kongres PAN yang memilih ketum baru di Kendari awal tahun kemarin. Kubu Mulfachri adalah kubu yang di kalahkan oleh ZulHas.

Kemenangan ZulHas juga bagi kami pengamat tidak terlepas dari “bantuan” istana. Zulhas “dimenangkan” agar PAN kembali mendukung Jokowi. Walaupun Zulhas sendiri gak masuk di dalam kabinet Jokowi-Maruf Amin karena di tolak oleh anggota koalisi Jokowi, tapi “kue” lain sudah pasti ZulHas dapat jatah.

Orang orangnya ZulHas juga di PAN lebih dekat dengan istana. Katakan saja seperti Totok Daryanto, Viva Yoga Mauladi dkk. Keluarnya Hanafi Rais dari pengurus DPP PAN nya ZulHas lebih karena ketidaknyamanan psikologis Hanafi bekerja dengan orang orangnya ZulHas.

ZulHas adalah antitesis nya Amien Rais di PAN, Jadi memang gak akan ketemu titik tengahnya. PAN berhasil di”bajak” kalangan muda PAN yang istana minded.

Secara ideologis, PAN di bawah ZulHas memang mengalami disorientasi, mengalami pergeseran nilai nilai reformasi yang didengungkan Amien sejak awal. Perolehan suara PAN juga meluncur turun dibawah ZulHas karena “Ruh” PAN sebagai partai reformasi sudah hilang.

Ada kemungkinan Amien Rais dkk sedang mempersiapkan pendirian partai baru, Hanafi gak akan mungkin “nganggur”. Dia masih muda, karirnya masih panjang. Partai Baru Amien Rais sedang di evaluasi secara menyeluruh sebelum di putuskan kapan berdirinya. Bisa jadi setelah masa masa covid19 ini partai baru ini akan berdiri. Nama Partai baru inipun sudah muncul, ada beberapa nama yang mengemuka, antara lain Partai Amanat Rakyat dan Partai Amanat Reformasi. Nama yang terakhir lebih menguat.

Amien dkk masih mempelajari detail dan sedang mengevaluasi langkah pendirian partai. Agar tidak dianggap pecah karena faktor kecewa terhadap ZulHas dst. Platform PAN sebagai partai reformasi sedang digodok ulang dan kembali ke titah lama nya sebagai partai yang punya basis ideologi yang jelas dan tidak kental dengan aroma pragmatis seperti selama ini dibawah ZulHas.

Di titik ini aganda Amien bagus. Di Indonesia memang saat ini dibutuhkan partai yang konsisten mengemukakan ide dan gagasan dan tidak terjebak pada budaya transaksional terus menerus.

Langkah Amien mendirikan partai baru dalam pandangan saya bagus jika ingin mengembalikan PAN ke narasi reformasi dan agenda inovasi kedepan. Mengingat kekuatan Amien di PAN masih seimbang dengan kekuatan kubu ZulHas, jika nanti partai baru amien berdiri. Maka akan banyak kader PAN yang selama ini vakum akan kembali menggeliat.

Amien belum “mati” di PAN, Amien masih punya magnet yang memadai untuk mengembalikan PAN ke track awal sebagai partai reformis. Meskipun begitu, partai baru Amien dkk nanti tentu memiliki banyak tantangan, partai baru nanti harus mengedepankan regenerasi yang baik dan re-ideologisasi yang cakap.

Akan bagus kalau Partai baru nanti langsung dipimpin Hanafi Rais dan ditemani oleh kawan kawan senior PAN kubu Mulfahri kemarin saat kongres. Kalau Amien-Hanafi berhasil mengkonsolidasikan kekuatan dengan baik dan melakukan regenerasi secara langsung dan cepat. Maka tidak tertutup kemungkinan Partai baru Amien nanti justru akan bisa mengeliminasi gaya politik ZulHas selama ini.

Akan banyak yang akan lompat pagar ke kubu Amien. Dalam pandangan saya, Hanafi bisa menjadi AHY berikutnya di kancah politik tanah air. Hanafi, AHY adalah ikon ikon politisi muda millenial yang punya peluang besar kedepannya. Karena pada dasarnya masa masa kaum tua dalam politik tanah air alias era gerontokrasi sudah lewat, dan publik sudah gak respek dengan golongan tua.

Sekarang memang era nya millenial. Era miretokrasi. Budaya feodal yang dipamerkan oleh kalangan tua di setiap partai sudah banyak ditolak dan tidak direspon positif oleh publik. Tapi karena tokoh millenial juga selama ini belum muncul, maka tokoh tua masih bisa bernafas.

Pendekatan politik kaum tua sudah tidak relevan, makanya kalangan muda seperti AHY-Hanafi harus mengambil jalan baru dan tidak melakukan pendekatan yang sama dengan para senior di masa lalu. Agar narasi dan platform baru nya Hanafi Rais dkk nanti bisa relevan dengan zaman dan bisa diterima oleh publik. terutama kaum muda millenial yang hari ini menguasai 30 sd 40% market share politik di indonesia.

Kalau agenda agenda yang saya sebutkan diatas mampu dilakukan oleh Amien dkk dengan partai barunya nanti. Maka akan ada harapan baru di tubuh politik “chanel” Muhammadiyah ini. Akan banyak kalangan Muhammadiyah yang selama ini apatis akan kembali aktif. Yah ini memang sunnatullah, PAN masuk periode 20 tahun an, banyak partai itu berubah di usia 20 tahun an. jadi harus disikapi dengan biasa saja. Biar dewasa dalam berpolitik.

Saya yakin kubu Zulhas nanti tidak akan menuding kubu Amien sebagai penghianat karena mendirikan partai baru. Ini siklus 20tahunan. Siklus normal bagi mereka yang paham rantai perubahan.

Overall, partai baru amien nanti kalau benar-benar hadir dan di kelola dengan baik, serta menitik beratkan pada regenerasi dan re-ideologisasi. Maka partai baru itu nanti punya masa depan yang bagus.

Tengku Zulkifli Usman / Analis Politik

PERDANANEWS